REPUBLIKACO.ID, Di atas segala ikhtiar optimal dan sikap tawakal menyerahkan hasil kepada-Nya, ketahuilah, ada izin dan ridha Allah di dalamnya. Izin dan ridha Allah itu bisa diraih melalui cara-cara yang sesuai dengan ridha-Nya, yang telah telah disyariatkan, bukan cara yang bathil. Baca Juga. Dari Umar bin Khattab RA berkata, Nabi SAW bersabda: Setiapikhtiar juga harus diikuti dengan berdoa dan bertawakal kepadaNya. Menurut H. Supriyanto, Lc., M.S.I dalam bukunya yang berjudul Tawakal Bukan Pasrah, antara tawakal dan ikhtiar tidak bisa dipisahkan antara satu dan lainnya. Sebab, konsep tawakal yang sesungguhnya yaitu dalam mencapai tawakal harus didahului dengan ikhtiar. Denganikhtiar bersama, Kepri akan kembali sehat. "Mari terus berikhtiar. Terus berusaha dan berdoa agar wabah ini hilang dari muka bumi. Kita harus optimis bahwa kita bisa melawan pandemi Covid-19 ini," kata Wagub Marlin usai menghadiri Video Conference Pray From Home Bersama Seluruh Umat Beragama di Aula Graha Kepri, Kota Batam, Ahad (11/7). Notes by Donny Adiguna 7/14/2021 Motivation. Apakah kita sedang memiliki masalah atau kesulitan yang saat ini kita pikir tidak ada jalan keluar untuk lepas darinya? Tuhan sudah menjanjikan tidak akan memberikan ujian kehidupan di luar kesanggupan hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu setiap ujian yang diberikan pasti ada jalan keluarnya, karena Danapabila terjadi wabah tadi di suatu daerah dan kalian sedang berada dalam daerah tersebut, maka janganlah kalian keluar dari daerah tersebut". Apa yang diperintahkan oleh Rasulullah saw tersebut menunjukkan bahwa selain berdoa, seorang muslim juga disuruh untuk berikhtiar dengan menjauhi tempat yang terinfeksi suatu wabah penyakit. l3ATK. BERDO’A KEPADA SELAIN ALLAHOleh Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-RumaihDi beberapa tempat banyak orang mengaku beragama Islam, tetapi mereka ber’doa kepada selain Allah baik kepada benda-benda hidup maupun yang mati, seperti nabi, para wali dan semisalnya. Mereka mengajukan berbagai macam permohonan agar terhindar dari mara bahaya dan agar dipenuhi berbagai kebutuhan mereka. Perbuatan tersebut jelas syirik besar dan jika pelakunya meninggal sebelum bertaubat, maka ia kekal di neraka. Karena do’a adalah ibadah dan menunjukkan ibadah kepada selain Allah adalah syirik besar sebagaimana firman تَدْعُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۚفَاِنْ فَعَلْتَ فَاِنَّكَ اِذًا مِّنَ الظّٰلِمِيْنَ “Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tida pula memberi madharat kepada selain Allah ; sebab jika kamu berbuat yang demikian itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim” [Yunus/10 106]Sayikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya tentang orang yang berziarah kubur dab bertawassul dengan para menjawab Apabila berziarah kubur untuk memohon dan ber-taqarrub serta mempersembahkan sembelihan kepada penghuninya, nadzar dan beristighatsah dengannya, maka demikian itu termasuk perbuatan syirik besar, bergitupula permohonan yang ditujukan kepada para wali baik yang masih hidup atau mati dan mereka berkeyakinan bahwa para wali tersebut bisa memberi manfaat atau madharat dan bisa mengabulkan permohonan serta memberi kesembuhan kepada orang yang sakit, maka perbuatan tersebut adalah syirik, semoga Allah melindungi kita darinya. Perbuatan tersebut juga menyerupai perbuatan orang-orang musyrik terdahulu yang menjadikan patung Latta, Uzza, sebagai tuhan-tuhan selain para pemimpin di negeri Islam menegakkan hukum Allah ; menindak tegas dan menghentikan segala macam perbuatan syirik serta menghancurkan setiap tempat kesyirikan seperti bangunan kuburan sebab bangunan tersebut disamping haram juga menjadi penyebab kemusyrikan. [Fatawa wa Tanbihaat wa Nashaih hal. 245-246][Disalin dari buku Jahalatun Nas Fid Du’a edisi Indonesia Kesalahan Dalam Berdo’a, Penulis Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih, Penerjemah Zainal Abidin, Penerbit Darul Haq] Home /A7. Adab Do'a dan.../Berdo’a Kepada Selain Allah Berdoa dan berikhtiar adalah bagaikan dua sisi mata uang. Keduanya memang berbeda tetapi tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Berdoa harus disertai ikhtiar dan sebaliknya ikhtiar harus pula disertai doa. Dalam kaitan ini Ibnu Atha'illah al-Iskandari mengingatkan bahwa setiap harapan menuntut adanya usaha konkret dari manusia sebagai berikut الرجاء ما قارنه عمل والا فهو أمنية Artinya,"Harapan mesti disertai amal. Jika tidak, ia hanyalah angan-angan" lihat Taqrib al-Turats al-Hikam al-Athaiyyah, Syarh ibn Abbad al-Nafaziy al-Rundiy, Markaz al-Ahram li al-Tarjamah wa al-Nasyr, Kairo, 1988, Cet. I, hal. 205. Harapan yang disandarkan kepada Allah disebut doa. Doa yang tidak diikuti dengan ikhtiar hanyalah angan-angan yang bisa jadi karena itu Allah sulit mengabulkannya sebab dalam kaitan ini Allah subhanahu wa ta’ala berfirman إِنَّ اللهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ Artinya “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” QS Ar-Ra’d, 11. Jadi apa yang disampaikan Ibnu Atha’illah di atas sejalan dengan firman Allah di dalam Al-Quran bahwa setiap harapan yang dimaksudkan untuk mencapai sesuatu, misalnya dari tidak memiliki menjadi memiliki. Atau singkatnya, menghendaki adanya perubahan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain, maka harus ada ikhtiar dari seseorang untuk melakukan perubahan itu. Jika tidak, maka harapan itu hanyalah sebuah angan-angan kosong. Dalam konteks virus Corona, setiap orang yang berharap dan berdoa agar diselamatkan dari ancaman wabah ini, ia harus berikhtiar dengan mematuhi protokol kesehatan sebagaimana petunjuk yang telah diberikan oleh para ahli di bidang kesehatan, yakni dengan mempraktikkan gaya hidup bersih, social distancing, mengenakan masker, dan sebagainya. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang berdoa kepada Allah memohon suatu perlindungan agar sesuatu yang negatif atau buruk tidak menimpa dirinya. Atau ia menghendaki agar ia dijauhkan dari suatu keadaan untuk mencapai keadaan sebaliknya yang baik dan bermanfaat. Doa itu misalnya adalah doa sebagaimana dicontohkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagai berikut اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ Artinya "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia." HR. Abu Dawud. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa setiap doa harus diikuti dengan ikhtiar, maka dapat diuraikan hal-hal sebagai berikut Pertama, barang siapa berdoa agar dijauhkan dari perasaan bingung, maka ia harus berikhtiar menjauhkan diri dari hal-hal yang bisa menimbulkan kebingungan. Misalnya, ia harus menghindari berbuat banyak kesalahan yang bisa membuatnya digugat banyak orang atas kesalahan-kesalahan itu. Singkatnya ia harus berhati-hati baik dalam ucapan maupun tindak- tanduk terhadap orang lain. Kedua, barang siapa berdoa agar dijauhkan dari perasaan sedih, maka ia harus berikhtiar memiliki hati yang kuat yang tidak mudah dihinggapi rasa sedih. Ia harus belajar menjadi orang yang sabar dan tabah menerima ujian dari manapun asalnya. Untuk maksud ini ia harus belajar berpikir positif bahwa apa yang dikehendaki Allah terjadi pada dirinya memiliki hikmah tertentu untuk kebaikan dirinya. Kebaikan itu bisa jadi baru akan terwujud di masa depan yang belum bisa dilihat di saat sekarang. Ketiga, barang siapa berdoa agar dijauhkan dari perasaan lemah, maka ia harus berikhtiar menjadi orang kuat baik secara fisik maupun mental. Ia harus belajar bagaimana menjadi orang kuat. Jika ia menginginkan menjadi orang kuat secara fisik, maka ia harus bisa menjaga kesehatan jasmaniahnya dengan olah raga secara teratur dan mengonsumsi makanan yang baik dan bergizi. Jika ia juga menginginkan menjadi orang yang kuat secara mental, maka ia harus belajar bagaimana memiliki kekuatan mental yang baik, misalnya, dengan memperlajari biografi para tokoh atau pemimpin besar dunia seperti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, para sahabat Nabi, tokoh-tokoh dunia dan nasional, dan sebagainya. Keempat, barang siapa berdoa agar dijauhkan dari perasaan malas, maka ia harus membentuk dirinya menjadi orang yang suka berkegiatan positif. Setiap kemalasan harus dilawan dengan hal yang sebaliknya. Jika ia malas bekerja, ia harus sadar bahwa kemalasan bisa membuatnya jatuh pada jurang kemiskinan. Untuk itu ia harus giat bekerja. Jika ia malas beribadah, maka ia harus berusaha melawannya dengan melakukan ibadah-ibadah wajib yang memang tidak boleh ditinggalkan. Jika ibadah yang wajib sudah bisa dilaksanakan dengan baik, ia bisa meningkatkan dengan ibadah-ibadah yang sunnah. Kelima, barang siapa berdoa agar dijauhkan dari sifat pengecut, maka ia harus berikhtiar menjadi orang yang bisa dipercaya dan bertanggung jawab dengan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Ia tidak boleh mencoba lari dari tanggung jawab dengan alasan apapun sebab setiap perbuatan buruk pasti akan mendapat balasan yang setimpal dari Allah subhanahu wa ta’ala. Keenam, barang siapa berdoa agar dijauhkan dari sifat kikir, ia harus berikhtiar menjadi orang yang suka berderma dengan apa yang sudah ada di tangan. Ia tak perlu menunggu kaya dahulu baru kemudian berpikir bagaimana menjadi seorang dermawan. Seorang dermawan pasti kaya amal meski ia bukan seorang hartawan. Sebaliknya seorang hartawan tidak otomatis menjadi seorang dermawan jika ia memiliki sifat kikir. Jadi setiap orang yang tidak ingin menjadi orang kikir, ia harus melawan kekikirannya dengan hal sebaliknya. Ketujuh, barang siapa berdoa agar dijauhkan dari lilitan utang, maka ia harus berikhtiar untuk tidak berutang pada orang lain kecuali dalam keadaan sudah sangat terpaksa. Dalam keadaan seperti ini agama membolehkan seseorang berutang pada orang lain. Agar tidak terlilit utang maka seseorang harus menahan diri dari berutang lagi sebelum utang yang sudah ada terbayar terlebih dahulu. Intinya untuk tidak terlilit dengan utang, seseorang harus berhati-hati untuk tidak mudah membiasakan diri berutang kepada orang lain. Kedelapan, barang siapa berdoa agar dijauhkan dari kesewenang-wenangan manusia, maka ia harus berhati-hati baik dalam sikap maupun tindak-tanduk kepada orang lain. Jika sikap berhati-hati sudah ditempuh dengan baik, tetapi masih saja ada orang lain yang bersikap sewenang-wenang, maka ia harus melawannya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Jika ia tak mampu melawannya secara langsung ia bisa mengadukannya kepada pihak yang berwenang. Intinya seseorang tidak boleh menyerah begitu saja atas kesewenang-wenangan orang lain sebab pada dasarnya setiap orang wajib melakukan nahi munkar mencegah perbuatan buruk. Kedelapan hal sebagaimana terkandung dalam doa di atas hanya menjadi sebuah angan-angan yang sulit diwujudkan jika tanpa disertai dengan ikhtiar nyata untuk melakukan hal-hal yang sebaliknya. Prinsip ini sesuai dengan nasihat Ibnu Atha’illah sebagaimana tertulis dalam kitab beliau yang sangat terkenal, yakni Al-Hikam, dan juga sejalan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Ar-Ra’d. Singkatnya, ikhtiar adalah konsekuensi logis dan teologis dari sebuah doa. Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama UNU Surakarta. Sumber Konsekuensi Berdoa adalah Berikhtiar

selain berikhtiar manusia harus berdoa dan