Sehingga hadits ini tidak bisa difahami "tidak beriman seseorang diantara kalian hingga mencintai dirinya sebagaimana mencintai saudaranya." Tapi pemahaman yang benar adalah tidak sempurna iman seseorang sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya. Kesempurnaan iman itu harus terealisasi dalam kehidupan.
Bagikan : Al-Qur'an Surat Al-Mumtahanah: 8, Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.
Berdasarkan beberapa contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa beriman kepada Allah tidak cukup dengan mengaku. Namun, perlu diusahakan sedemikian rupa agar menjadi cerminan perilaku sehari-hari. Bahkan Allah tidak akan menerima keimanan seseorang sebelum diuji dengan kesusahan, kebahagiaan, kesedihan, kesenangan, harta, dan jiwa (Q. Al-Baqarah
Bisa juga, sebagaimana dinyatakan al-Syaukani, bermakna li al-taqrî' wa al-tawbîkh (celaan dan teguran). Artinya, mereka tidak dibiarkan begitu saja mengatakan telah beriman tanpa diuji dan dicoba seperti yang mereka kira. Mereka benar-benar akan diuji untuk membuktikan kebenaran pengakuan iman mereka. Kata yuftanûn berasal dari kata al
"Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Hingga Allah tahu dengan ujian itu -dan Allah Maha Tahu sebelum diuji, tapi itu sebagai hujjah bagi manusia sehingga tidak bisa membantah/mengingkari- antara orang-orang yang jujur imannya dan orang-orang yang dusta imannya." (QS. Al-Ankabut[29]: 3) Hikmah dibalik ujian
m4LGbL.
tidak dikatakan beriman seseorang sebelum diuji